Pagi itu, kabut tipis menyelimuti Rawa Tenang, sebuah kawasan rawa yang terletak di pinggiran desa yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Langkah kaki saya perlahan menapak jalan setapak dari kayu yang membentang di atas rawa. Suasana hening, hanya terdengar suara riak air yang tersapu angin dan kicau burung yang sesekali menembus kabut. Rawa ini bukan sekadar lanskap alam, melainkan tempat yang menyimpan cerita dan memori sejarah desa. Bagi masyarakat lokal, Rawa Tenang adalah saksi bisu perjalanan hidup mereka, sekaligus lokasi sakral yang menjadi pusat dari berbagai upacara adat purba. Dalam perjalanan ini, saya juga tertarik untuk melihat bagaimana tradisi itu tetap dihormati dan bagaimana budaya lokal berkembang, termasuk melalui informasi yang dibagikan di platform seperti kuatanjungselor.com dan komunitas https://kuatanjungselor.com/
Menapak di atas papan kayu, setiap langkah terasa seperti menyusuri lorong waktu. Pepohonan rawa yang menjulang tinggi menciptakan kanopi alami, meneduhkan jalur dan memantulkan bayangan di permukaan air yang tenang. Kabut semakin tebal di beberapa titik, menambah kesan mistis yang memikat. Warga desa percaya bahwa rawa ini dihuni oleh roh leluhur, dan setiap tindakan di sekitar kawasan ini harus dilakukan dengan penuh hormat. Bahkan saat beraktivitas sehari-hari, mereka kerap menyempatkan diri memberikan persembahan kecil di tepian rawa untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Kebetulan, saat kunjungan saya, desa sedang mempersiapkan Upacara Purba Rawa Tenang, sebuah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Upacara ini diselenggarakan untuk menghormati roh leluhur sekaligus memohon keselamatan dan kesuburan bagi tanah dan hasil panen. Sejak pagi, warga mulai berkumpul, mengenakan pakaian adat yang penuh warna dan motif khas desa. Anak-anak belajar menari dan bernyanyi mengikuti ritme musik tradisional, sementara para tetua adat mempersiapkan alat-alat upacara yang terbuat dari kayu, bambu, dan anyaman pandan.
Saat upacara dimulai, suasana berubah menjadi sakral namun hangat. Dentingan gamelan dan gendang tradisional mengiringi tarian yang memukau, diiringi doa dan mantra yang dilantunkan para tetua. Rawa yang biasanya tenang kini seolah hidup, memantulkan cahaya matahari yang menembus kabut tipis. Setiap gerakan tarian dan doa memiliki makna mendalam, mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Saya terkesima melihat masyarakat tetap menjaga tradisi ini meski dunia modern semakin berkembang.
Yang menarik, dalam beberapa tahun terakhir, informasi mengenai Upacara Purba Rawa Tenang ini juga mulai dibagikan melalui media digital, salah satunya platform kuatanjungselor.com. Hal ini membuka peluang bagi masyarakat luar untuk mengenal budaya desa tanpa mengganggu esensi sakralnya. Komunitas kuatanjungselor pun aktif mendukung pelestarian adat, mempromosikan cerita, dan mengedukasi generasi muda agar tetap menghargai tradisi leluhur. Dengan cara ini, budaya purba tidak hanya dihormati secara lokal, tetapi juga dikenal secara nasional dan internasional.
Saat matahari mulai condong ke barat, upacara berakhir. Warga kembali ke aktivitas masing-masing, namun aura sakral dan damai dari Rawa Tenang masih terasa. Perjalanan menyusuri rawa dan menyaksikan upacara purba itu memberikan pengalaman yang mendalam. Saya menyadari betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan budaya. Tradisi seperti ini tidak hanya memperkuat identitas, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan. Dengan dukungan platform seperti kuatanjungselor.com dan komunitas kuatanjungselor, budaya lokal seperti Upacara Purba Rawa Tenang dapat terus dihormati, dilestarikan, dan dikenali oleh generasi mendatang.